Pengertian dan gejala umum Agoraphobia

Agoraphobia bisa dikatakan sebagai gangguan kecemasan pada rentang usia remaja menjelang
dewasa sekitar 20 tahun. Penderita akan merasa terganggu dengan keadaannya yang
menyerupai ketakutan yang berlebih pada sesuatu jadi untuk bisa diperkirakan kedepannya
pendampingan seseorang agar merasa penderita merasa aman. Serangan panik terjadi kerena
adanya membuatnya malu, terjebak, atau tidak berdaya. Situasi-situasi tersebut antara lain,
saat menggunakan transportasi massa, dalam keramaian, atau sedang antre. Tempat terbuka
seperti jembatan dan tempat parkir, serta ruang tertutup seperti toko dan bioskop juga
membuat penderita agoraphobia merasa khawatir. Kebanyakan gangguan agoraphobia ini
berkembang setelah penderitanya mengalami satu atau lebih serangan panik.
Adapun gejala yang dirasakan penderita Agoraphobia dapat di golongkan menjadi beberapa
macam, antara lain:


1. Gejala fisik, para penderita akan mengalami situasi sulit saat berada di lingkungan yang
menimbulkan perasaan cemas. Gejala fisik yang akan dialami penderita Agoraphobia meliputi
detak jantung dan napas menjadi lebih cepat, suhu tubuh akan panas dan menjadi berkeringat,
tidak sehat, nyeri dada, diare, gemetar, pusing, dan bahkan bisa terjadinya pingsan.
2. Gejala kognitif, perasaan serta pikiran penderita yang dapat dihubungkan dengan gejala
fisiknya. Beberapa gejala kognitif agoraphobia, antara lain terjadinya serangan panik akan
mengancam nyawa dan membuat penderita terlihat macam orang bodoh. Serangan panik akan

terjadi sewaktu-waktu, penderita merasa bahwa terjebak di kondisi sulit. Penderita akan takut
dan hilangnya akal , tidak bisa di kontrol dan menjadi pusat perhatian.
3. Gejala perilaku, misalnya menghindar dari keadaan yang sangat sulit dan dapat menimbulkan
serangan panik, pada situasi dalam bus umum, antrean, atau pada keramaian. Penderita juga
menghindar untuk keluar rumah juga takut akan sesuatu jadi penderita mengurung diri di
rumah untuk waktu lama, dan penderita sangat membutuhkan orang yang dipercaya untuk
menemani pergi. Dibutuhkannya pendampingan agar selalu aman dan merasa tidak adanya
ancaman. Beberapa pemeriksaan telah dilakukan namun belum ada hasil pengolahan data. Jadi
untuk penyebabnya belum di pastikan. Umumnya gangguan cemas sebagai komplikasi dari
serangan panik. Kemudian dapat dihindari serangan panik. Adanya pendampingan untuk setiap
haldan berbagai macam faktor meliputi: faktor biologis (riwayatkesehatan dan keturunan), sifat
dan perilaku, tekanan lingkungan, serta pengalaman hidup.
Usia juga merupakan faktor terjadinya gajala gangguan cemas dan pada usia dari remaja ke
dewasa akan mengalaminya. Umumnya mencapai usia 35 tahun.
Fobia, gangguan panik, Agoraphobia dapat ditimbulkan oleh ketakutan yang berlebihan
disebutnya (fobia) terhadap hal itu.
Kejadian yang pernah dialami yakni kejadian buruk yang menyangkut penderita mungkin
kejadian traumatis, seperti penyiksaan atau kematian anggota keluarga.
Pengaruh dari gejala bermacam sebab namun juga kurangnya pengetahuan terhadap gangguan
cemas mengakibatkan penderita mengalami nasib buruk yang seharusnya tidak dialami.
Banyaknya masalah juga mempengaruhi kindisi mentalnya.
Gejala dan tanda klinis pada penderita, antara lain:
1. Wawancara pada penderita yang dilakukan oleh doker, psikolog, atau psikiater untuk
menangani gangguan kecemasan.
2. Pemeriksaan fisik, dilakukan

pemeriksaan fisik untuk bisa mengetahui kondisi saat ini dan mengidentifikasi adanya penyebab
utama yang bisa mempengaruhi gangguan ini.
Pada keadaan paling buruk adanya kecemasan yang berlebihan di suatu tempat terbuka dan
akan membahayakan bagi penderita. Adanya pengaruh buruk pada masalah yang disebabkan
oleh penderita atau bahkan berkaitan dengan rasa gelisah yang mempengaruhi perasaan
khawatir yang berlebihan pula.